Home Quotes Gambar

Gadis yang sedang menunggu

Pada perjalanan yang akhirnya datang, aku bergumam. Meminta sebait puisi paling manis milik semesta. Sebab aku ingin.

Aku ingin jadi yang paling beruntung. Yang setidaknya itu kataku. Seperti harap yang kuutarakan kepada hari-hari yang bernafas.

Hari-hari itu bicara. Berbisik juga bertanya. Agar aku yakin. Agar bertahan dalam sungguh. Sungguh yang kemudian kutitipkan pada gemintang.

Gemintang yang berjejak titik. Yang bersenandung dalam hening. Disana. Disana pintaku menetap. Menanti-nanti tuk sempurna jadi nyata.

Nyata lahir dari tiada. Tapi atasnya aku tak kuasa. Hanya rayu berselimut malu yang aku mampu. Merunduk mengiba, mematuh-matuh hati sendiri.

Hati sendiri yang kadang menyulam kerasnya kepala. Ialah ratu, yang bertahta tapi tak tampak. Ialah mentari, yang wujudkan garis-garis edar.

Garis edar yang semestinya pula menjadi lintasan hati. Seperti sewaktu aku merundukkan kepala dalam sujud. Hatiku tak boleh bertengkar untuk merasa lebih tinggi.

Perasaan yang hanya menghancurkan diriku dikemudian hari. Padahal hati, bila ia turut tersungkur saat meminta, disanalah ia jadi mulia.

Karena mulia bukan tertera pada nilai, bukan pada kekuatan, bukan pula pada keindahan. Melainkan ia hanya kan tertulis hingga jadi abadi, bila tertunduk dalam ketaatan.

Maka dalam ketaatan itulah aku berupaya. Meminta bukan memaksa. Memohon bukan sebab merasa aku yang lebih tahu.

Sebagaimana aku hanya tahu, bahwa puisi yang paling manis itu, yang kelak ingin selalu aku baca dalam-dalam. Bersama senyum, bersama kerendahan hati, aku bercita akan sebuah rumah pada hari yang abadi.

Achmad Lutfi

Tinggalkan Balasan

Latest Posts

Wanita muslim

Rindu yang ku pendam, tak pernah terungkap walau dalam goresan. Semua hanya aku ungkapkan dalam diam. Diam yang ku jalani hanya seonggok nyali yang...